Home Ekonomi Capital Market Wah, Debitur Kurang Perhitungkan Biaya KPR

Wah, Debitur Kurang Perhitungkan Biaya KPR

3 min read

Jakarta, BusinessNews Indonesia—Sebagian besar debitur KPR (kredit pemilikan rumah) di Indonesia kurang mengalkulasi adanya sejumlah biaya yang harus dibayarkan untuk cairnya kredit tersebut. Maka, mereka heran ketika di belakangan mengetahui harus mengeluarkan biaya lagi. Itu misalnya biaya provisi, notaris, dan lain-lain sejenis.

“Oleh karena itu, edukasi tentang biaya KPR seperti itu, perlu berlangsung ke masyarakat,” kata Country General Manager Rumah123.com, Ignatius Untung, di Jakarta (15/5/2018), kepada sejumlah wartawan, ketika memaparkan Sentiment Survey H1/2018.

Untung menjelaskan bahwa karena tidak memerhitungkan biaya KPR itu, seseorang lantas kerepotan mengadakan dana tambahan. “Dan tak urung, menghubungi IMF atau ‘ibu, mertua, famili’ untuk hal ini,” kata Untung berseloroh.

Lebih lanjut, Untung meminta debitur KPR ataupun KPA (kredit pemilikan apartemen) saksama dalam memilih KPR. Dalam hal ini, debitur jangan sekadar melihat keringanan yang diberikan di awal masa angsuran.

“Sebagusnya, cermati di belakangan. Angsurannya nantinya seperti apa,” kata dia.

Temuan Menarik

Untung juga menjelaskan sejumlah hal menarik dari survei terbaru dari Rumah123.com. Satu di antara itu, terkait kesulitan menyediakan DP (down payment) sebagai satu penghambat membeli hunian via KPR.

Ternyata, tidak ada hubungan antara besarnya tingkat penghasilan dengan berkurangnya kesulitan tersebut. Angka persentase responden yang sulit punya dana DP, rata-rata 40%-an di berbagai kelompok penghasilan mereka.

“Ada kecenderungan, semakin tinggi penghasilan, kebutuhan responden semakin tinggi. Jadi, tetap kesulitan menyediakan DP untuk membeli hunian. Sering, yang diutamakan ketika penghasilan naik adalah gaya hidup yang ikut naik,” kata mantan eksekutif di Kaskus tersebut.

Hal menarik lainnya adalah naiknya jumlah pekerja milenial yang memandang bahwa membeli hunian berarti sekaligus berinvestasi. Survei terbaru tersebut menunjukkan bahwa angka responden yang tergolong sebagai investor dengan menganggap membeli hunian berarti berinvestasi, sudah di 27,29%.

“Persentase ini naik tajam daripada tahun sebelumnya. Sementara, kalau kita melihat kelompok investor profesional yang punya lebih dari satu properti sebagai alat investasi atau bukan first buyer, angka persentasenya cenderung sama kalau dibandingkan secara tahunan,” kata Untung.

Load More By achmad adhito
Load More In Capital Market

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Wismilak Sudah Danai 25.000 Wirausahawan Muda

Jakarta, BusinessNews Indonesia—Melalui aktivitas program CSR, Wismilak Inti Makmur …